Friday, August 21, 2009

Tasyakkur pada tanggal 1 Ramadhan

Semoga Allah memberikan Cahaya Hidayah kepada kita semua amiiin.

Menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh dengan rahmat Allah dan segala kemurahan keberkahan fadhilah ini, perkenankanlah al-faqir ini untuk berceloteh membagi nikmat Allah dan mengajak untuk mensyukurinya.

Saat ini Allah begitu sayang kepada al-faqir ini, karna Allah memberikan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat bernilai melalui buku-buku yang dibaca dan berbagai ayat-ayat Allah yang terlihat.

Pada setiap saat kita shalat, kita selalu memanjatkan doa kehadirat ilahi rabbi agar senantiasa Allah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang yg diberi petunjuk dan bukan jalan orang yang dimurkai dan sesat (alfatihah),

Salah satu tafsir ayat tersebut yang dimaksud orang yang dimurkai adalah orang yang telah mendapatkan berita akan kebenaran al-qur'an dan rasulullah akan tetapi mereka mendustakannya (berpaling), maka Allah murka terhadapnya, dalam hal ini terdapat orang yang berpaling dari kebenaran karena gengsi, karna terlanjur membela suatu kelompok dan telah dimulyakan, karna berhutang budi atau jasa pd seseorang yg dia loyal kpdnya, karna terkalahkan oleh hawa nafsu cinta pada keduniaan sehingga meninggalkan kebenaran tersebut, dan ada pula yang takut kehilangan popularitas karna telah masyhur sebagai seorang alim yg telah diikuti oleh banyak orang, atau mungkin malu apabila kalah dlm argumentasi atau hal-hal yang lain. Golongan maghdzuub (yang dimurkai) ini lebih dibenci dan dimurkai Allah dari pada golongan yang dzolin (sesat) yang kedua.

Adapun maksud dari orang yang dzolin (sesat) adalah golongan orang yang tidak tahu kebenaran, dan tidak mendapatkan hidayah, karena ketidak-tahuan mereka, maka mereka inkar akan ayat Allah, melakukan kesalahan yang dilarang oleh Allah, berfatwa dengan sesuatu yg salah tapi diyakininya sebagai suatu kebenaran, melakukan sesuatu yang diyakini benar yang pada hakikatnya adalah salah, ini adalah golongan orang yang sesat, oleh sebab itu kita berlindung kepada Allah dari golongan orang dzoolin ini agar diberikan petunjuk dan Hidayah Allah. Jika Allah menghendaki maka golongan dzolin ini akan diberikan hidayah dan jika Allah menghendaki maka Allah akan adzab dan ditetapkan sebagai orang kafir yang sesat karna ketidak tahuannya atau ketidak-mau-tahu-an-nya kepada kebenarannya.

Adapun golongan yang diberikan petunjuk, atau golongan yang kita selalu memintanya kepada Allah (shiratol mustaqim) adalah golongan orang-orang yang diberikan kenikmatan atas mereka, nikmat sejati adalah nikmat syurga dan keridhoan Allah kelak di akhirat, oleh sebab itu merupakan kenikmatan terbesar di dunia ini adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan kita mendapatkan nikmat hakiki kelak, yaitu nikmat iman, nikmat islam, nikmat hidayah, nikmat kasih sayang Allah baik sesuatu yang kita senangi ataupun kita tidak senangi di dunia ini, jika kita masih diberikan kenikmatan bersyukur, berkhusnudhon, bertaqwa dan bertawakkal sampai kita wafat dalam keadaan husnul khatimah, maka itulah nikmat yang terbesar dalam hidup.

Terahir masalah jalan orang islam yang telah meyakini kebenaran Al-qur'an maupun Hadits yang kita yakini kebenaran keduanya, telah bersepakat bagi seluruh orang yang beriman dalam hatinya, bahwa Al-qur'an adalah seratus persen benar dan demikian pula al-hadits Rasulullah SAW. Namun demikian terdapat perbedaan orang yang memahami dan menerima Al-qur'an dan hadits tersebut, ada dua kemungkinan pada setiap manusia dalam memahami al-qur'an dan sunnah yaitu kemungkinan benar dan kemungkinan salah, nah inilah yang terjadi pada setiap diri manusia selain Rasulullah SAW.

Oleh sebab itulah adanya perbedaan pendapat, dari berbagai ulama' mereka semuanya tidak ma'sum pemahamannya, semuanya berkemungkinan benar atau salah, jadi sungguh kita tidak bisa mengatakan imam besar mujtahid itu benar 100 persen itu sudah diketahui, akan tetapi kita juga tidak bisa melarang seseorang mengikuti mujtahid, dikarnakan dia tidak ma'sum, karna kita pun tahu kalau kita tidak mengikuti Mujtahid pun, kemudian kita langsung memahami al-qur'an dan hadits sendiri, tidak ada yg menjamin bahwa pemahaman kita ma'sum (pasti benar 100 persen). Demikian pula pemahaman orang yang melarang mengikuti mujtahid, adalah ada kemungkinan salah dan benar, tidak ada yg maksum (terjaga dari salah) dalam pemahaman terhadap Al-qur'an dan Hadits siapapun orangnya selain Rasulullah SAW. Bahkan penetapan shahih, hasan, dhoif atau maudhu'nya suatu hadits pun juga hasil penelitian ulama' bisa kemungkinan benar dan bisa kemungkinan salah pula yang kita taklid padanya.

Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk (alfatihah)
Mari kita berlindung dari Allah dari golongan yg dimurkai dan golongan yg sesat
wallahu a'lamu bi showab.
By : Komarudin Evendi (KSA)
--
Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Tuesday, August 11, 2009

Anda semua adalah saudaraku.

Begitu banyak golongan maupun gerakan maupun kelompok kaum muslimin yang memiliki cirri berlainan antara satu sama lain, ada yang nyata-nyata mengaku dan menamakan diri sebagai kelompok atau madzhab tertentu, ada pula yang tidak mau disebut sebagai suatu kelompok namun memiliki cirri has tersendiri, yang membuatnya dijuluki dengan nama tertentu atau julukan sesuai dengan cirinya tersebut.

Pertama yang kita yakini bersama adalah Islam sebagai agama yang benar dan telah sempurna, Muhammad SAW adalah sumber kudwah hasanah, kemudian Ahlussunnah yang mengakui kemulyaan salafussholih, sementara Syi'ah yang mengingkari sebagian sahabat, dan Islam Liberal yang memahami Al-qur'an dan assunnah disesuaikan dengan zaman dan akal,  kemudian pecahan dari Ahlussunnah wal jama'ah adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh ahmad Dahlan, kemudian Nahdzatul Ulama yang didirikan Hasyim asy-'ari keduanya adalah hanya organisasi pergerakan.

Kemudian disusul dengan PKS yang merupakan partai islam disamping PKB, PAN PBNU dan lain sebagainya, namun partai-partai ini mewakili organisasi islam, seperti PKS adalah didominasi oleh Ihwanul Muslimin, PKB didominasi oleh warga NU awalnya, PAN identik dengan warga Muhammadiyah dll. Demikianlah sekilas cabang islam yang kita ketahui bersama.

Adapun terdapat organisasi baru yang menamakan sebagai Hidayatullah, Wahdatul Islamiyah, Darus Hadits, LDII, HTI lemkari disusul Salafy (yang juga disebut Wahabi) dan masih banyak lagi gerakan da'wah yang mengaku paling sesuai dg al-qur'an dan hadits. Empat madzhab besar pemikiran dalam islam yg juga sebagai cirri da'wah adalah Hanafi, Maliki, Syafi'ie dan Hambali, juga merupakan cirri has golongan tertentu.

Masing-masing dari organisasi islam tersebut adalah mengaku yang paling sesuai dg al-qur'an dan assunnah, sesuai yang dibawa oleh Rasulullah SAW, namun hanya bukti yang bisa menjadi acuan kebenarannya, akan tetapi semuanya pun mengeluarkan bukti yang "benar" menunjukkan bahwa mereka adalah ahlussunnah, sesuai ajaran Rasulullah dan faham (manhaj) salafussholih, tentunya jika dilihat dari tubuh organisasi itu sendiri, dan sebaliknya mereka menganggap yang lain adalah kurang sesuai atau bahkan tidak sesuai ajaran islam yg murni, bahkan yang lebih parah adalah menganggap kafir dan sesat diluar golongannya.

Baiklah dalam artikel ini, penulis tidak mewakili organisasi apa dan memposisikan dimana, namun penulis hanya mengajak agar kiranya kita renungkan fenomena ini semua, tidak ada yang bisa menjamin kebenaran sejati kecuali Allah, diposisi manapun kita (anda atau saya) berdiri dan kecenderungan dalam berkelompok, namun satu hal yang perlu kita sepakati adalah Islam agama kita, Muhammad SAW adalah Nabi kita, Salafussholih adalah Manhaj kita, selagi golongan manapun dalam islam yang memiliki prinsip yg sama dan mampu membuktikannya, maka tidak ada alasan kita menganggapnya sesat kecuali hanya karna tidak sama dg kita, dan alasan ini adalah berbahaya karna akan membawa pd permusuhan dan perpecahan, boleh jadi dia lebih selamat dari kita.

Digolongan manapun kita berada, cukuplah kita membuktikan bahwa yang kita lakukan adalah berdasar Qur'an dan Hadits serta pemahaman salafussholih, tak perlu pula kita membuktikan golongan diluar kita sesat dan tidak sesuai Qur'an dan hadits serta salafussholih kecuali kita menjawab pertanyaan atas alasan kita mengikuti sebuah pendapat yg kita anggap benar, karna dalam agama juga terdapat yang disebut Ijtihad, sebaiknya kita menghargai ijtihad orang lain, sebagaimana perkataan para mujtahid "Mungkin pendapat saya benar tapi mengandung kesalahan, dan mungkin pendapat orang lain salah namun mengandung kebenaran".

Mari kita menjaga lisan kita dari menganggap bid'ah, sesat, kafir, syirik, zindik dan lain sebagainya, walaupun nyata-nyata sesat menurut pandangan kita, namun jika masih bersyahadat yang sama dan tidak mencela sahabat Rasul, maka mereka adalah saudara kita yg mungkin mereka lebih benar dari pada kita yg menuduh. Berhati-hati menghukumi orang yg bersyahadat adalah salah satu cirri ajaran yang benar, cirri ahlussunnah wal jama'ah. Dan bahkan pemeluk agama islam yg meyakini syahadatnya merupakan orang yg selamat walaupun bergolongan apapun dia berada, sungguh Allah maha tahu bagi siapa saja hambaNYA yg ingin benar-benar meniti jalan yang lurus dg penuh rasa khasyiah (takut pd Allah). Jikalau hamba tersebut masih dlm perjalanan mencari kebenaran, Allah Maha Mengampuni asalkan syahadatnya telah syahadat Islam. Ihdina as-shirathal Mustaqim. Anda semua para pengucap syahadat adalah Saudaraku.

Wallahu a'lamu bishowab.

--

Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Saturday, August 8, 2009

Keberanian Salafy dan Salafussholih

Keberanian Salafy dan Salafussholih


Apa bila kita menoleh kepada sejarah islam masa lalu, maka akan kita dapatkan betapa beraninya para sahabat rasulullah radhiallahu anhum dalam menegakkan kebenaran dan membela Rasulullah SAW.

 

Tertera dalam satu kisah, seorang jagoan dari quraisy yang bertubuh besar bernama Amru, pedangnya sangat panjang hampir dua meter atau bahkan lebih, maka bisa dibayangkan besarnya orang tersebut, orang tersebut menantang Baginda Rasulullah SAW atau siapa saja yg menjadi utusan Rasul, baginda Ali KW mendampingi Rasulullah SAW dan menawarkan diri "Biarkan saya melayaninya wahai Rasulullah" Rasul enggan mengizinkan Ali, karna rasulullah tahu siapa Amru tersebut.

 

Kemudian Amru masih terus menantang dan mengolok-olok Rasulullah dan para pengikutnya dan menantang untuk bertarung siapa saja yang berani syahid, dan dengan tegas baginda Ali kembali menawarkan diri "Biarkan saya melawannya wahai Rasulullah" Rasul bersabda " dia adalah Amru" (maksudnya jagoan yang tidak terkalahkan pada masa itu), baginda Ali menjawab "Walaupun Amru sekalipun saya akan melawannya", kemudian Rasulullah mengizinkan baginda Ali dan memberikan baju besi Rasulullah serta pedang Zulfikar Rasulullah kepada baginda Ali seraya berdoa kepada Allah agar bahwa baginda Ali adalah satu-satunya saudara dan dzuriyah rasulullah SAW agar Allah tidak menjadikan Rasulullah sendiri tanpa saudara dan sanak saudara.

 

Dengan keberaniannya baginda Ali seolah menghadapi anak kecil dalam menghadapi Amru, dalam sekejab Amru bisa dikalahkan oleh baginda Ali seraya baginda Ali menuturkan setelah pertarungan tersebut "setelah memakai baju besi dan pedang dari Rasulullah perasaan berani saya benar2 meningkat, kalau tohpun sekumpulan orang yang saya lawan, maka aku akan berani melawannya"

 

Demikian keberania para salafuna sholih dalam membela Agama Allah dan membela Rasulullah SAW, baginda Ali bertekat, walaupun beliau tidak tahu akan mendapatkan keberanian sebelumnya, bahkan musuh yg begitu tangguh dalam perkiraan sebelumnya tapi beliau tidaklah gentar menghadapinya.

 

Lain dengan kelompok yang mengaku salafy pada zaman sekarang, mereka juga memiliki sifat keberanian, namun keberaniannya tersebut sungguh disayangkan, mereka sangat berani mengkafirkan para saudara islam yang mengucapkan syahadat, terdapat riwayat sahabat yg membunuh orang kafir pada suatu perang yang mengucapkan La ilahaillallah, yg menurutnya main-main, berikut riwayatnya :

 

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi saw. Rasulullah saw. bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah saw. bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman:  Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah.  Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah   (Sahih Muslim)

 

Begitulah penyesalan sahabat yang telah membunuh orang kafir yang mengucap lha ilaha illallah, bahkan dia merasa seolah dia baru saja masuk islam, seakan segala perjuangannya serta apa yg dilakukan sirna dia rasa dengan kesalahan tersebut, dan dia memulai dengan lembaran islam baru yg dia hati-hati dalam menitinya.

 

Namun perhatikan salafy akhir zaman yang begitu gampang menuduh kafir terhadap orang yang mengucap La ilahaillallah, bahkan pada saat berdirinya kerajaan Saudi yang didekengi oleh Muhammad bin abdul wahhab, menghalalkan darah kaum muslimin muslimat dengan alasan membrantas kesyirikan dan kekafiran, padahal yg dituduh bersyahadat, jika mengikuti sabda Rasulullah SAW, " Apakah engkau (mereka para wahabi/salafy) sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Namun mengapa mereka "berani" sekali mengecap kafir syirik kepada pengucap La ilahaillallah?

--
Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Friday, July 31, 2009

Ada apa dengan saudaraku

Berbagai macam golongan dan pergerakan baik yang berupa madzhab, organisasi, idiologi aqidah, maupun yang mengaku manhaj yang pada dasarnya sama dengan madzhab.

Apa perbedaan madzhab dan manhaj?
Madzhab adalah berasal dari kata dzahaba yang artinya pergi, madzhab berarti tempat pergi atau jalan,  madzhab adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan mazhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama islam,  yang dinamakan mazhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah. (wikipedia)

Adapun Manhaj secara bahasa artinya jalan yang jelas (Qamus Al-Muhith). Istilah yang populer di kalangan ahlul ilmi ialah jalan yang akan mengantarkan kepada pengenalan hakekat ilmu melalui kaidah-kaidah umum yang dapat menjaga jalannya akal dan memberi batasan-batasan yang praktis, sehingga dengan itu akan sampai kepada hasil yang dapat diketahui dengan jelas (lihat Manhajul Istidlal, jilid I, halaman 20, oleh Utsman bin Ali Hasan).

Dengan kata lain Manhaj adalah sistem pemahaman dan pengenalan ilmu. Yang dimaksud dengan Manhaj di sini ialah Manhaj sebagai Salafiyyin dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Manhaj ini diambil dari para imam ahlul hadits dari kalangan Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti mereka.
( kutipan dr perpustakaanislam)

Jika kita lihat dari dua istilah yang diambil antara manhaj dan madzhab, maka dapat kita fahami bahwa keduanya tidak ada bedanya.
1. pemahaman yang diambil adalah sama yaitu dari ulama' salaf atau ahlul hadits, para mujtahid adalah para pakar hadits, minimal 600 ribu hadits berikut sanad dan hukum matan, baik riwayah maupun dirayatnya. serta syarat yang lain.
2. Madzhab dan manhaj sama-sama jalan, cara yang diambil dan ditempuh setelah melalui penelitian dll.

Namun anehnya, ada segolongan orang yang menentang dan menuduh madzhab adalah pemecah belah ummat sehingga menjadi terkotak-kotak, disisi lain mereka mengaku sebagai bermanhaj salaf, pertanyaannya, memang madzhab mana yang tidak bermanhaj salaf? keseluruhan ulama yang mendirikan madzhab adalah ulama' salafushalih yang kesemuanya mengikuti manhaj salaf, diakui oleh ulama' ahlussunnah waljama'ah.

Bagi para pengikut madzhab, tidak ada salahnya untuk terus mengamalkan dan bermadzhab, ada pun yg menolak madzhab, secara tidak langsung ataupun langsung, diakui atau tidak sesungguhnya mereka sedang mendirikan madzhab baru, walaupun namanya madzhab campuran, atau madzhab gk jelas, atau madzhab apa lah yang belum tentu teruji.

wallahu a'lamu bishowab.
--
Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Sunday, July 26, 2009

Mengapa saya tak mau menerima Salafy/wahabi atau sejenisnya.

Sepertinya merupakan keperluan bagi saya untuk menjelaskan semampu saya akan sikap tidak menerima saya terhadap faham atau idiologi wahabi yang mengaku salafy atau yg mengaku dengan nama lain yg sejenisnya.

1. Mereka beraqidah mujassimah, yang menetapkan dan memaknai ayat mutasyabihat sesuai dzahir ayat, menolak ta'wil sehingga menganggap kafir bagi yang menta'wilnya. sebagaimana Albani yang mengomentari Imam bukhori yang menta'wil "wa yabqo wajhu robbika dzul jalali wal ikram" kalimat wajhu diartikan oleh Imam Bukhori sebagai "Dzat" kemudian Albani mengatakan "Tidak akan berkata seperti itu seorang muslim yang beriman". (lihat Fatwa albani 532) Lihat ajaran tajsim yang menyusun dalil untuk menerangkan bentuk Allah disini dan lihat tuduhan yg dilontarkan mereka disini.

2. Mereka mengagungkan ulama' salafussholih dalam satu hal, kemudian mengkaji dan mengakui ulama-ulama tersebut beserta kitabnya sebagai hujjah ahlussunnah wal jama'ah, akan tetapi menololak sebagian yang lain ditambah menganggap sesat bagi siapa saja yang beramal dengan pendapat yang mereka tolak.
Contoh : Mereka mengakui Ibnu Hajar Al-atsqolani dg kitabnya fathul baari. Beliau dan kitabnya adalah ahlussunnah akan tetapi mereka menganggap orang sesat, bid'ah, kafir atau musyrik bagi orang yang bertawassul dengan orang yang telah Meninggal termasuk bertawassul pada Nabi Muhammad SAW, padahal dalam fathul bari terdapat hadits tawassul dengan orang yang telah meninggal dengan komentar Ibnu hajar Shohihul isnad. Seharusnya jika mereka menganggap sesat orang yang tawassul dg orang yang telah meninggal yang terlebih dahulu mereka ingkari adalah Ibnu hajar yang telah mencantumkan hadits tersebut dan memberi komentar Sanadnya shohih yang berarti bisa beramal dengan hadits tersebut. (lihat fathul baari) hadits yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu katsir dengan komentar yg sama (lihat)

Hal senada juga berada dalam kitab majmu zawaid abi bakar al-haitami, beliau menulis hadits lain tentang tawassul dengan orang yg telah meninggal dan memberi komentar hadits shohih (lihat), abi bakar al-haitami dan bukunya dirujuk dan diakui ahlussunnah kata mereka, sementara orang sekarang yang beramal dengan itu di bid'ahkan dianggap sesat, kafir, syirik dll. lihat hadits itu...

Contoh lain : Mereka mengakui kefakihan dan keilmuan Imam as-syafi'ie, kemudian mereka menggolongkan pula pada Mujtahid mutlak, ahlussunnah wal jama'ah serta salafussholih, namun mereka menganggap sesat orang-orang sufi, sementara orang sufi juga mengikuti imam syafi'ie yang menasehati "Jadilah seorang Faqih dan seorang yang Sufi jangan jadi salah satunya, maka sesungguhnya aku dan Hak (kebenaran) Allah menasihati" (Lihat Diwani Syafi'ie). kenapa mereka menganggap sesat kaum sufi, sementara imam syafi'ie sendiri menganjurkan mereka tidak sesatkan?

3. Mereka banyak mengkritik pendapat para ulama, dan mengingkari madzhab mendakwah "tidak usah bermadzhab, para imam madzhab tidak mengajurkan untuk diikuti", namun kenyataan para salafussholih banyak yang membela madzhab yang mereka anut dan ikuti, hal itu mereka tentang, dengan fatwa "Madzhab adalah memperpecah ummat" tapi disisi lain mereka terkesan memaksakan pada pengikutnya untuk beribadah sesuai pendapat mereka seraya mengkritik bahkan membid'ahkan yang tidak sesuai dengan mereka yaitu para pengikut madzhab lain.
Contoh :1. Telah didapati dikalangan ulama' khilafiyah masalah Qunut, diantara mereka saling toleran satu sama lain, namun tidak ada yg membid'ahkannya, mengapa mereka membid'ahkan qunut subuh?, 2. Telah disepakati oleh ijma' ulama bahwa mengirimkan pahala bacaan qur'an dzikir atau shodakoh atau ibadah lain kepada mayit yang telah meninggal adalah sampai, namun mereka menentang dan mengatakan amalan sia-sia  dsb.

4. Masalah maulid nabi, mereka menghukumi siapapun yang merayakan maulid Nabi Muhammad SAW adalah ahlul bid'ah, para ahli bid'ah yang sesat dan tempatnya di Neraka, berbagai dalil dan para ulama' membolehkan sebagai hasil ijtihadnya, mereka tidak peduli, Ibnu hajar, Imam Nawawi Imam syuyuti yang mereka akui ahlussunnah pun membolehkan Maulid Nabi, tapi mereka tidak sebut mereka ahlul bid'ah tetap mengikuti dan berhujjah dg kitab mereka, malah para pelaku di akhir zaman mereka serang dan sebut ahlul bid'ah. Padahal mereka juga mengakui ijtihad qiyamullail pada sepuluh terahir pada bulan ramadhan yg disaudi dilakukan secara berjama'ah berkesinambungan layaknya tarawih, sementara tarawih juga sudah dilakukan ba'da isya', hal itu memang baik dan boleh mengapa hal yang lain tidak boleh dilakukan, maulid nabi bid'ah dengan satu alasan saja "Rasulullah tidak menyuruh, sahabat tidak melaksanakan" padahal sholat qiyamullail dengan cara saudi sekarang juga sama.


Yang saya tidak bisa terima dari mereka adalah idiologinya yang berakidah tajsim, serta cara mereka berdakwah dengan menghukumi selain dari mereka kafir, syirik, bid'ah, sesat dan sejenisnya. Jadi esensi ajaran mereka yang memang menyelisih, mereka mungkin berjenggot panjang, menutup aurat, menjaga pandangan dan hubungan dg lawan jenis, hafal al-qur'an dan terlihat alim ahli ibadah, namun esensi asli ajarannya tetap, dasar ajarannya adalah menyelisihi ulama', sebagaimana khawarij disebutkan oleh rasulullah bahwa qoum khawarij itu jika dibanding dengan para sahabat, maka ibadah para sahabat tidak ada apa-apanya, akan merasa minder jika dibandingkan, Saya tidak mengatakan mereka khawarij, akan tetapi saya mengambil dirayat dari sabda nabi SAW, bahwa kita tidak bisa melihat ke shohihan suatu qoum hanya dengan nilai-nilai ibadahnya dan penampilannya saja, namun esensi ajarannyalah yg kita lihat.

Dengan alasan mensucikan akidah, membersihkan syari'at dari kesesatan, namun disisi lain mereka mencela para ulama, menganggap kafir, sesat, musyrik, ahli bid'ah, ahlul hawa dll. Apakah hati yang bersih, ahlak yang mulya akan mengeluarkan kata2 itu pada orang yang telah bersyahadat dan mengikuti pendapat ulama' mu'tabar, kitab salafussholih yang mereka(salafy) juga akui keafsahannya sebagai ahlussunnah waljama'ah?

Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin adalah yg bertanya tentang sesuatu yg tidak diharamkan, menjadi diharamkannya hal itu sebab pertanyaannya" (Shahih Bukhari)

Semoga salafy/wahaby dan sejenisnya bisa mengambil hikmah dan intropeksi diri sehingga dapat menghindari ciri khawarij yang gampang mengkafirkan, menganggap sesat kaum muslimin lain yang tidak sependapat dengan mereka.

Hadits ciri Khawarij  diantaranya:

Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]

Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Ali yang menjadi utusan di Yaman, mengirimkan emas yang belum diproses kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda membahagikannya kepada empat atau beberapa orang iaitu al-Aqra' bin Haabis, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin Ulasah al-Amiri, kemudian kepada seorang dari Bani Kilab iaitu Zaid al-Khair At-Tha'ie, juga kepada seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Engkau memberikannya kepada pemimpin-pemimpin Najd, tetapi meninggalkan kami iaitu tidak memberikannya kepada kami? Rasulullah s.a.w bersabda: Aku lakukannya untuk memujuk hati mereka. Setelah itu datang seorang lelaki yang berjanggut tebal dan menonjol rahangnya. Manakala kedua matanya cengkung dan dahinya pula menonjol keluar. Kepalanya juga botak iaitu kesan cukur. Dia berkata: Takutilah Allah, wahai Muhammad! Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa lagi yang lebih taat kepada Allah kiranya aku menderhakaiNya? Tidakkah Dia mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan engkau tidak mempercayaiku? Lalu lelaki itu beredar. Seorang di antara orang ramai meminta izin untuk membunuh lelaki tersebut. Tetapi Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara kaumku ini, ada orang-orang yang membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka mampu membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala hidup. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik] 

Wallahu a'lam bishowab.
--
Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Friday, July 24, 2009

Melihat Tarekat secara porposional.

Tarekat hukumnya Sesat, demikian pendapat orang wahabi yang menamakan diri salafy, mereka mengemukakan kesesatan-kesesatan tarekat, diantara tuduhan yang dilontarkan seorang ustadz salafy dalam pengajian Jaliat di Saudi Arabia yaitu:

Para guru atau syeh pemimpin tarekat meninggalkan syari'at, mereka mengambil qias dari nabi hidir yang menyelisihi syari'at nabi Musa, maka kita juga boleh menyelisihi syari'at nabi Muhammad SAW, oleh sebab itu para guru tarekat menyuruh murid-muridnya sholat di masjid, sementara sang guru tidak sholat. demikian tuduhan orang salafy tersebut. Benarkah tuduhan ini??

Kamungkinan pertama :
Kalau toh pun ada seorang guru yang terlihat tidak sholat, ada pengakuan sebagian dari mereka bahwa sang guru sholat di makkah, hal ini juga sulit dipercaya, namun jikalau benar bahwa sang guru sholat di makkah bisa dalam sekejab ke makkah dan sekejab lagi ke indonesia yang merupakan kemampuan yg diberikan Allah kepada orang tersebut sebagai mana seorang alim yang memindahkan kerajaan ratu balqis dalam sekejab mata dengan izin Allah, maka hal itu juga bisa terjadi. Daripada kita lebih kotor karna menuduh orang tidak mengerjakan shalat, tidakkah lebih baik kita husnudhon?

Kemungkinan kedua :
Mungkin benar orang tersebut memang tidak sholat, sebagaimana yang diceritakan ustadz salafy, bahwa orang itu tidak shalat karna telah mencapai ma'rifat, jadi tidak perlu syari'at, misalnya orang kaya sudah tidak perlu bekerja, karna tanpa kerja pun asetnya telah mengalir dan uangny cukup melimpah. akan tetapi benarkah semua ajaran tarikat seperti itu? benarkah secara ikrar secara terang-terangan mereka (tarekat) melegitimasi pemahaman ini sebagai ajaran tarekat? jika tidak berarti itu tak lebih hanya oknum yang memperburuk citra tarekat, dan tidak bisa di pukul rata bahwa seluruh tarekat adalah sesat bukan, sebagaimana orang islam pun banyak yang tidak sholat, bukan berarti islamnya atau ajaran islamnya yg salah, akan tetapi oknum orang islam itulah yg memang sesat, sebagaimana islam liberal.

Orang salafy juga menuduh bahwa tarekat adalah jalan baru, jalan pintas untuk mencapai syurga, mencapai keridhoan Allah, tidak mengikuti syari'at Rasulullah dan membuat syariat sendiri dengan perbanyak dzikir dan meninggalkan syari'at, jika diteliti terdapat banyak sekali tarekat yang justru lebih baik ibadah dan lebih sesuai dengan al-qur'an dan sunnah dari pada yang menuduh, dzikir-dzikir yang dilafadzkan pun berlandas pada dalil-dalil yang kuat, sebagaimana pengakuan para pengikut tarekat alawiyin.

Bisa dibenarkan ketika ilmu tasawwuf dipelajari, sementara ilmu fiqih tidak atau kurang, maka akan berakibat buruk, demikian pula ketika ilmu fiqih dipelajari kemudian tanpa ilmu tasawwuf maka terjadi kurang hati-hati dalam menjaga hati, oleh sebab itu kedua ilmu ini harus seimbang dan sejalan, demikian pula nasehat imam as-syafi'ie rahimahullah, agar kita mempelajari kedua ilmu tersebut tidak hanya cukup salah satu saja (lihat kitab diwani syafi'ie)
--
Your Best Regard
www.rindurosul.wordpress.com
http://www.rumahvendi.phpnet.us

Thursday, July 23, 2009

Kakang mengajak Anda untuk bergabung di Facebook

facebook
Hai Pujakesula,
Orang-orang berikut ini mengundang Anda untuk menjadi teman mereka di Facebook:
Kakang VendiKakang Vendi
135 teman
3 foto
 


Orang lain yang mungkin Anda kenal di Facebook:
Syamsu RizalSyamsu Rizal
Yies MuslihahYies Muslihah
AnkgHie ThaAnkgHie Tha
Risma WatiRisma Wati
Sutriani Auliah PutrySutriani Auliah Putry
Syamsul AkhyarSyamsul Akhyar
Indonesia
 

Facebook ada adalah tempat terbaik untuk tetap berhubungan dengan teman-teman, bertukar foto, video dan membuat banyak acara. Anda harus bergabung di sini! Daftar hari ini juga untuk membuat profil dan temukan orang-orang yang Anda kenal.
Terima kasih,
Tim Facebook
Facebook adalah situs gratis dan siapa saja dapat bergabung
Daftar
Pesan ini merujuk ke endyen.tulis@blogger.com. Jika Anda tidak ingin lagi menerima email sejenis dari Facebook, silakan klik di sini untuk berhenti.
Kantor Facebook beralamat di 1601 S. California Ave., Palo Alto, CA 94304.